Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT
Abdul Rahman Saleh
Dulu, membaca adalah pengalaman yang pelan, bahkan nyaris
kontemplatif. Sebuah novel setebal dua ratus halaman terasa ringan. Dalam satu
atau dua hari, ia bisa tamat—bukan karena terburu-buru, tetapi karena kita
tenggelam di dalamnya. Saya masih ingat, ketika remaja, kami berebut membaca
kisah petualangan karya Karl May. Nama-nama seperti Old Shatterhand dan
Winnetou bukan sekadar tokoh, melainkan dunia yang kami masuki. Kami
seolah-olah berada di padang praire, menunggang kuda, merasakan angin dan debu
yang sama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar